Analisis atau Review Kritis Substansi Artikel Tentang Studi kasus KKN Tematik, community service
Halo semuanya, selamat datang di blog Aku🤗👋🏻
Perkenalkan, saya Siti Sinta Maulidia Rohmah mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang yang sedang menempuh mata kuliah Pembangunan Berkelanjutan untuk Masyarakat Kali ini saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini, dari artikel yang berjudul "Making design thinking for education sustainable: Training preservice teachers to address practice challenges". Selamat membaca. (Sumber:Click here)
Artikel ini menyoroti pentingnya Design Thinking (DT) dalam konteks pendidikan guru dan berupaya menjawab kesenjangan pelatihan calon guru dalam hal kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan pemecahan masalah kompleks. Penulis menilai bahwa peran guru di abad ke-21 bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan sebagai designer of learning experiences—perancang pengalaman belajar yang mampu menyesuaikan metode dan media pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Berdasarkan gagasan tersebut, penelitian ini memperkenalkan model baru bernama Think-Create-Teach (TCT) yang dikembangkan untuk membantu calon guru mendesain media pembelajaran dengan pendekatan DT secara sistematis, reflektif, dan kreatif. Artikel ini tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga eksperimental, karena melibatkan penerapan TCT di lingkungan perkuliahan nyata dan membandingkannya dengan metode tradisional berbasis Project-based Learning (PjBL).
Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan menguji efektivitas metodologi TCT dalam konteks pelatihan calon guru. Penulis berupaya menilai sejauh mana TCT dapat: (1) Membekali calon guru dengan keterampilan berpikir desain (DT) untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah pembelajaran di sekolah; (2) Meningkatkan kemampuan calon guru dalam merancang media pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan sesuai dengan kurikulum; (3) Mengintegrasikan DT ke dalam kurikulum pendidikan guru melalui pendekatan yang berkelanjutan dan mudah diadaptasi; dan (4) Membandingkan hasil penerapan TCT dengan metode pembelajaran tradisional berbasis proyek (PjBL).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan desain kuasi-eksperimen. Subjek penelitian terdiri atas 108 calon guru pendidikan anak usia dini di Universitas Zaragoza, Spanyol. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: kelompok eksperimen (56 mahasiswa) menggunakan metodologi TCT dan kelompok kontrol (52 mahasiswa) menggunakan pendekatan PjBL tradisional. Penelitian dilaksanakan selama satu semester (16 minggu). Lima dimensi evaluasi yang menjadi dasar analisis adalah: (D1) Integrasi ke kurikulum, (D2) Kesesuaian dan kualitas materi, (D3) Proses kerja dan hasil media pembelajaran, (D4) Emosi dan iklim pembelajaran, dan (D5) Persepsi kontribusi terhadap pembelajaran. Analisis dilakukan dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney U serta analisis tematik untuk data kualitatif.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metodologi TCT memberikan dampak positif signifikan terhadap kemampuan desain dan kreativitas calon guru dibandingkan metode tradisional PjBL. Kelompok eksperimen menghasilkan media pembelajaran yang lebih relevan dengan kurikulum, mudah digunakan, aman, dan kreatif. Terdapat perbedaan signifikan (p < 0.05) pada aspek adequacy, usability, dan creativity antara kelompok eksperimen dan kontrol. Dari sisi proses, mahasiswa menunjukkan tingkat refleksi, kolaborasi, dan empati yang lebih tinggi. Secara emosional, mereka merasa lebih terlibat dan menikmati proses belajar, meskipun tingkat motivasi sedikit menurun akibat kompleksitas dan situasi pandemi Covid-19. Fase prototyping dan presentasi (fase 4) menjadi tahap paling bermakna dengan skor tertinggi (μ = 6,3).
Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa TCT merupakan model pelatihan yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan untuk pendidikan calon guru. Model ini tidak hanya memperkenalkan DT sebagai konsep kreatif, tetapi juga sebagai pendekatan pedagogis yang konkret untuk membentuk guru reflektif dan inovatif. Penerapan TCT membantu calon guru mengembangkan soft skills seperti empati, kerja tim, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis. Kolaborasi lintas disiplin antara bidang desain dan pendidikan menjadi faktor utama keberhasilan model ini, sementara kehadiran fasilitator ahli desain diperlukan pada tahap awal implementasi.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan penelitian ini terletak pada desain metodologisnya yang kuat karena menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta melibatkan kelompok kontrol untuk memastikan validitas hasil. Konteks penelitian yang nyata menambah nilai praktis dan relevansi temuan. Kolaborasi lintas disiplin memperkaya perspektif pedagogis dan metodologis. Namun, keterbatasan penelitian meliputi konteks sampel yang homogen, durasi singkat (satu semester), ketergantungan pada fasilitator ahli desain, serta penilaian yang sebagian masih subjektif karena bergantung pada persepsi peserta.
Novelty (Kebaruan)
Kebaruan utama artikel ini terletak pada integrasi sistematis Design Thinking ke dalam pendidikan calon guru melalui model TCT. Model ini mengadaptasi prinsip DT dari dunia industri ke konteks pendidikan melalui pendekatan x-disciplinary antara ahli desain dan pendidikan. Pendekatan ini memperkenalkan evaluasi kompetensi melalui proses desain yang menilai empati, refleksi, dan kolaborasi, bukan sekadar hasil ujian tertulis. Penggunaan platform digital Trello juga menjadi inovasi penting dalam mendokumentasikan proses kolaboratif secara real time.

Comments
Post a Comment