Halo semuanya, selamat datang di blog Aku🤗👋🏻
Perkenalkan, saya Siti Sinta Maulidia Rohmah mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang yang sedang menempuh mata kuliah Pembangunan Berkelanjutan untuk Masyarakat Kali ini saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini, dari artikel yang berjudul "Artificial intelligence in technology networks: A catalyst for achieving the SDGs". Selamat membaca. (Sumber:Click here)

Artikel karya Vincenzo Varriale, Antonello Cammarano, Francesca Michelino, dan Mauro Caputo ini diterbitkan dalam jurnal Technovation edisi 2026. Tulisan ini membahas peran Artificial Intelligence (AI) dalam jaringan teknologi digital untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penulis menyoroti bahwa AI kini tidak hanya berfungsi sebagai teknologi tunggal, tetapi menjadi penghubung strategis antar berbagai inovasi digital seperti Internet of Things (IoT), Blockchain, komputasi awan, dan aplikasi digital. Artikel ini hadir sebagai respons terhadap kekosongan dalam literatur yang selama ini lebih fokus pada kontribusi individu AI terhadap keberlanjutan, tanpa menelaah bagaimana AI berinteraksi secara sistemik dengan teknologi lain untuk menciptakan nilai jejaring (networked value) dalam praktik bisnis berkelanjutan.
Tujuan
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai jejaring (networked value) AI di dalam ekosistem teknologi digital yang berkontribusi terhadap pencapaian 17 SDGs. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi sejauh mana integrasi AI dengan sepuluh teknologi digital lain—seperti IoT, blockchain, immersive environments, dan komputasi—mendukung berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, penelitian bertujuan memberikan pemetaan empiris atas praktik bisnis berkelanjutan (Sustainable Business Practices / SBPs) yang melibatkan AI, serta mengungkap area SDG yang masih minim integrasi antar teknologi. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan dasar teoretis bagi strategi transformasi digital berkelanjutan dan kebijakan industri yang selaras dengan prinsip Industry 5.0.
Metode
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif-deskriptif dengan pendekatan analisis jejaring sosial (Social Network Analysis/SNA). Penelitian ini tidak bersifat eksperimental, melainkan berbentuk studi bibliometrik dan konten empiris sekunder, yang menganalisis data dari publikasi ilmiah. Desain penelitian berupa cross-sectional mapping study, yakni pemetaan hubungan antar variabel teknologi berdasarkan data sekunder dari artikel-artikel yang relevan.
Instrumen utama yang digunakan adalah lembar klasifikasi dokumen dan perangkat lunak Pajek64 (versi 5.19) untuk menghitung parameter jaringan seperti degree centrality, closeness, dan betweenness. Selain itu, metode manual content analysis digunakan untuk mengidentifikasi dan mengodekan praktik bisnis berkelanjutan yang memanfaatkan teknologi digital.
Variabel dalam penelitian ini terdiri atas dua kelompok:
-
Variabel bebas (independen): jenis teknologi digital (AI, IoT, blockchain, computing, 3D printing, immersive environments, digital applications, robotics, proximity technologies, geospatial technologies, dan open/crowd-based platforms).
-
Variabel terikat (dependen): ketercapaian SDGs yang diukur melalui keterhubungan teknologi dalam mendukung tujuan tertentu (misalnya SDG 7, 9, dan 12).
Sedangkan subjek penelitian bukan individu atau organisasi, melainkan 2.161 praktik bisnis berkelanjutan (SBPs) yang diambil dari 1.286 artikel ilmiah dalam basis data Scopus periode 2019–2024. Data dikumpulkan secara purposif dengan kriteria: artikel menggunakan minimal satu teknologi digital dan memiliki kontribusi eksplisit terhadap satu atau lebih SDGs. Seluruh data kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis teknologi dan tujuan SDG yang dicapai untuk dianalisis secara struktural melalui SNA.
Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI merupakan teknologi paling sentral dan berpengaruh dalam jaringan teknologi digital berorientasi SDGs. AI memiliki nilai degree tertinggi (10) yang menunjukkan keterhubungan maksimal dengan semua teknologi lain. AI paling sering diintegrasikan dengan IoT, computing, dan digital applications, terutama dalam konteks SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab). Kolaborasi AI–IoT terbukti memperkuat pengelolaan energi terbarukan, prediksi permintaan energi, dan efisiensi produksi industri. Sementara itu, Blockchain berperan dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas rantai pasok berkelanjutan. Sebaliknya, teknologi seperti 3D printing, robotics, dan proximity technologies menempati posisi periferal dengan nilai keterhubungan rendah, menandakan kurangnya integrasi dan interoperabilitas dengan AI.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa fokus aplikasi AI masih didominasi oleh SDG ekonomi dan lingkungan, sementara SDG sosial seperti pendidikan (SDG 4), kesetaraan gender (SDG 5), keadilan (SDG 16), dan kemitraan global (SDG 17) relatif belum banyak mendapat perhatian. Kondisi ini mengindikasikan bias sistem inovasi global yang masih berorientasi pada efisiensi ekonomi daripada keadilan sosial.
Kesimpulan
Penelitian menyimpulkan bahwa AI berperan sebagai katalis utama dalam integrasi teknologi digital untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Integrasi AI dengan IoT, blockchain, dan komputasi menciptakan sinergi yang mempercepat transformasi menuju praktik industri hijau, rantai pasok transparan, dan efisiensi energi. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara penerapan teknologi untuk SDG lingkungan dan ekonomi dibandingkan SDG sosial. Penulis menegaskan perlunya pendekatan lintas sektor yang menggabungkan AI dengan teknologi lain dalam konteks sosial, etika, dan kemanusiaan agar keberlanjutan bersifat holistik.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan utama artikel ini adalah kerangka metodologisnya yang kuat dan inovatif, menggabungkan analisis bibliometrik dengan social network analysis secara sistematis terhadap dataset besar (2161 SBPs). Pendekatan ini memberikan gambaran empiris yang luas tentang pola kolaborasi teknologi digital dalam konteks SDGs. Artikel juga menawarkan visualisasi jaringan teknologi yang informatif dan argumentasi teoritis yang relevan dengan paradigma Industry 5.0.
Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, seluruh data bersumber dari literatur sekunder, tanpa verifikasi empiris langsung pada perusahaan atau proyek nyata, sehingga validitas aplikatifnya masih terbatas. Kedua, ruang lingkup temporal (2019–2024) dan pembatasan pada artikel berbahasa Inggris berpotensi menyebabkan bias geografis. Ketiga, indikator kinerja SDG yang digunakan bersifat konseptual (berdasarkan keterhubungan teknologi), bukan pengukuran dampak konkret. Hal ini menjadikan hasil analisis lebih bersifat eksploratif daripada evaluatif.
Novelty
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengenalan konsep “networked value of AI”, yakni nilai tambah yang dihasilkan dari integrasi AI dalam jaringan teknologi digital, bukan dari kinerja AI secara individu. Pendekatan ini menggeser paradigma dari analisis standalone technology menuju interconnected digital ecosystem. Penelitian ini juga merupakan salah satu studi pertama yang memetakan lebih dari dua ribu praktik bisnis berkelanjutan melalui social network analysis, sehingga memberikan dasar empiris baru bagi penelitian tentang integrasi teknologi dan keberlanjutan. Kontribusi teoretisnya memperkaya wacana digital sustainability serta menawarkan arah baru bagi kebijakan Industry 5.0 yang mengedepankan kolaborasi teknologi, manusia, dan tujuan sosial.
Comments
Post a Comment